Hiburan dalam Genggaman : vivo X3S #SmartSound

Akhir-akhir ini memilih smartphone jadi susah-susah gampang seperti memilih jodoh. Karena semakin banyak merk, semakin banyak model dan semakin banyak yang mengklaim paling bagus dibanding yang lain. Tetapi, kebutuhan masing-masing orang berbeda. Selain kebutuhan tentunya kemampuan juga turut mendukung seseorang memilih smartphone pilihannya.

Saya mengkategorikan diri sebagai seorang roker atau kependekan suka-suka dari rombongan kereta. Saya memiliki kebutuhan smartphone yang berbeda dengan orang dengan kategori lain. Saya mempunyai kriteria smartphone itu harus yang ukurannya pas ; tidak kekecilan dan tidak kegedean. Tidak terlalu tebal agar nyaman saat dikantongin. Bersuara jernih dan kencang karena saya suka mendengarkan musik. Mempunyai sistem operasi yang friendly dan tidak nge-lag. Berlayar dengan resolusi tinggi jadi saat menatap layarnya dengan jangka waktu cukup lama tidak menyebabkan mata lelah karena saya suka membaca berita online, ber-social media, maupun nonton film favorit berjam-jam lamanya. Berkamera canggih untuk memenuhi hobi fotografi saya dan yang pasti tidak menguras kantong harganya, hehe.

Dari kriteria yang saya sebutkan tadi ternyata vivo X3S yang memenuhinya. Salah satu smartphone berukuran tipis karena tebalnya hanya 5,95 mm dan terlihat sangat stylish. 

x3s-section1-figure

Wow super slim!

Continue reading →

Advertisements

Sketsa Terakhir

18085304Awalnya saya membeli novel yang cuma 200-an halaman ini dikarenakan sebagai apresiasi pada salah satu pengarangnya yang kebetulan saya kenal. Tetapi, setelah mulai membaca dan akhirnya selesai saya berkesimpulan teman saya ini punya bakat bercerita yang bagus.
Berkisah tentang persahabatan Tio dan Rena yang sama-sama memiliki hobi membuat sketsa atau gambar. Seperti anggapan orang tidak pernah ada persahabatan yang tulus antara lelaki dan perempuan. Benar saja, Tio mulai menyukai Rena. Tetapi, Tio tidak pernah berani mengungkapkannya untuk menjaga persahabatan mereka.

Kemudian hadir Dru, teman Rena yang tergabung dalam komunitas yang sama dengan mereka. Sejak pertama berkenalan dengan Tio, Dru langsung jatuh hati. Rena menyadari itu, secara perlahan dia menghilang dari kehidupan Tio dan Dru.

Di tengah-tengah kesibukan menyiapkan pernikahannya dengan Dru, tiba-tiba Tio ambruk di sebuah meeting dengan klien di kantornya dan kemudian diantar oleh sahabat sekaligus rekan sekantornya, Martin ke rumah sakit. Dokter memvonis leukimia dengan jatuh waktu hidup dua hingga lima tahun.

Keinginan terakhir Tio sebelum meninggal adalah bertemu Rena. Ia ingin jujur pada perasaannya. Takdir mempertemukan mereka. Rena yang sudah menetap di London dan menjadi pelukis terkenal kembali untuk pameran lukisan karyanya. Tanpa sengaja Dru memergoki undangan pameran itu.

Martin yang merupakan sahabat tunangannya dan sekaligus diam-diam mencintai Dru itu menjadi satu-satunya tempat berkeluh kesah Dru. Bahunya selalu siap menjadi sandaran. Telinganya selalu siap mendengarkan meskipun ada perasaan sakit hati karena merasa kenapa bukan dia yang pertama mengenal Dru, tetapi Tio. Dan nyatanya Tio menyia-nyiakan kenyataan dengan terus berimajinasi pada kehidupan khayalnya.

Sepertinya garis besar cerita di novel ini adalah cinta dan obsesi. Cinta Dru pada Tio yang ternyata terobsesi pada Rena. Ketika terobsesi pada seseorang gemerlap bayangannya memang sulit ditepiskan padahal di sudut sana mungkin ada seseorang dengan cintanya yang tulus. Ikhlas menanti. Ikhlas menunggu. Beruntunglah ketika seseorang itu tidak kemana-mana. 

Sebenarnya waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan novel ini tidak sampai 4 hari seperti yang tertera dalam akun goodreads saya tetapi karena kesibukan syuting striming di kantor jadi tiap hari hanya mencuri-curi waktu paling banyak 2 jam.

Memang benar intrik yang disajikan tidak terlalu kompleks. Persahabatan. Cinta. Obsesi. Arsitek. Penyakit. Tetapi, balutan cerita dengan kata-kata indah mampu membawa menghanyutkan pembaca -khususnya saya- ke dalam ceritanya. Apalagi ketika didapati ada cerita yang kejadiannya hampir mirip. :p

Akhirnya, saya berani merekomendasikan novel ini sebagai bacaan pilihan di saat senggang mengisi liburan. Selamat membaca~

Never Let Me Go

Kisah romantis tragis bengis bikin nangis ini diperankan oleh dua aktris cantik dan seorang (calon) aktor besar ganteng. Sang aktris Carey Mulligan yang saya kadung jatuh cinta diperannya sebagai gadis lugu dalam An Education. Satunya, Keira Knightley, si cantik semampai ini tahulah kamu bakal menemukannya di mana. 😀 Lalu, Andrew Garfield, kenapa saya bilang dia calon aktor besar? Sebab, Garfield yang juga meramaikan The Social Network ini kan ditelah dikontrak resmi sebagai Peter Parker dalam Spiderman sebagai pengganti Tobey Maguire

Mereka berkenalan di sebuah sekolah yang dikhususkan sebagai pendonor organ bagi orang yang mengalami kekukarangan. Ruth (Keira Knightley) menjadi penghalang di antara kisah cinta sejati Kathy (Carey Muliggan) dan Tommy (Andrew Garfield). Tetapi, atas nama persahabatan Kathy mengalah. Terlebih, karena Kathy sempat mengatakan dia tidak pernah sedikitpun mencintai Tommy. Semacam tidak mau menjilat ludah sendiri, Kathy memendamnya dengan menikmati luka hatinya sendirian. *alah ini bahasa apa?*

Menyingkat cerita, mereka semakin dewasa. Beberapa teman di antara mereka telah melakukan donor dan beberapa sudah ada yang meninggal. Suatu hari, Kathy berkesempatan bertemu dua sahabatnya yang telah terpisah jarak. Tentunya dengan perasaan masing-masing yang lebih stabil. Ruth telah melakukan donor dua kali dan menurut pengalaman pada donor ketiga dia akan kehilangan nyawanya. Begitupun, Tommy. salah satu ginjalnya telah didonorkan. Jadi, keharuan pertemuan mereka kembali semakin tergambarkan. Bagaimana ending-nya cerita ini, apakah saya diijinkan bercerita di sini? 😆

Moral of the story : ungkapkan perasaanmu, siapa tahu dia juga mempunyai perasaan yang sama. Kalau ternyata tidak ya berarti segera cari yang lain. Apakah ini semacam curhat colongan? *eh

Pesan saya di Twitter bisa dilihat di sini 🙂

*gambar dari sini *

Going the Distance

Saya lagi suka nih review film yang baru saya tonton. Film yang akan saya review sekarang genre-nya komedi romantis, Going the Distance. Tentang bagaimana menjalani hubungan jarak jauh begitu. Ahey! Teman saya yang kebetulan sedang menjalani pun mention di twitter saya bagaimana kisah filmnya. Saya cuma ngikik. Nggak ngasi solusi. Biarin.

Garrett (Justin Long) baru saja putus dari kekasihnya ketika bertemu dan akhirnya jatuh cinta pada Erin (Drew Barrymore) di sebuah bar di New York enam minggu sebelum Erin terbang ke San Fransisco yang artinya mereka cuma bisa bertemu 3 bulan sekali. Berbagai trik selama menjalani long distance relationship mereka praktikan. Mulai dari telepon, skype dan phone sex sekalipun. Hihihi.. Harus repot banget ya kalau LDR begitu?

Filmnya memang masih jalan di zona aman. Konflik ringan, tidak dibuat-buat. Tetapi chemistry Long dan Barrymore patut diacungi jempol karena mereka memang spesialis film bergenre rom-com.

Anda sedang berLDR? Sila tonton film ini.. 😀

gambar dari sini yaa..

 

13 : Thirteen

Awalnya penasaran dengan film berjudul 13 ini. Semacam ada dorongan kuat untuk menontonnya karena memiliki angka “13” my lucky number 😀 Terlebih ada nama Jason Statham di dalamnya. Makin penasaran meskipun film-nya Statham kebanyakan bak buk tidak jelas, tapi actionnya selalu menarik.
Vince (Sam Riley) terlibat dalam sebuah games pertaruhan hidup dan mati atau yang lebih dikenal Russian Roulette–di mana setiap pemain dibekali masing-masing revolver berisi 6 peluru, tetapi pada tahap awal diisi dengan 1 peluru lalu diputar kemudian dibidikkan pada pemain di depannya, jika berhasil selamat, pada ronde kedua akan diisi dua peluru dan selanjutnya berlaku seterusnya–setelah diculik oleh orang yang tidak dikenalnya melalui petunjuk yang membuatnya penasaran. Dan petunjuk itu membawanya pada nasib yang sedang mengintainya. Kematian atau kehidupan dengan limpahan materi.
Statham di sini berperan sebagai Jasper, seorang boss penjudi. Di film ini aksi Statham memang kurang, scene lebih banyak menggambarkan Riley dengan seluk beluk kehidupannya. Selain Statham dan Riley, thirteen juga membawa nama pemain lawas Mickey Rourke yang tampil memukau di film The Wrestler.
Lalu, sebenarnya nasib apa yang menimpa Vince? Ternyata vviiinnnnccccceeeee mememe… *dibekep*

Test Pack

Empat tahun silam ketika teman-teman saya membicarakan novel ini saya tidak bergeming untuk mencoba membacanya. “Cewek banget nggak sih?” Pikir saya waktu itu. Tapi, ketika seseorang menanyakan tentang novel itu, saya jadi menyesal kenapa dulu tidak sempat membaca yang akhirnya tidak bisa memberikan testimoni apapun padanya. Dan sialnya, itu buku lama hanya keajaiban yang mampu mempertemukanku dengannya. *mulai lebay* Tapi, ternyata buku ini sedang dalam proses cetak ulang lagi. Langsung joget pisang saya hari itu. Tidak lama dari kabar itu, saya menemukannya di display buku baru di sebuah toko buku.

Penulisnya Ninit Yunita, istri Adhitya Mulya yang juga penulis novel Jomblo, Gege Mengejar Cinta dan Traveler’s Tale itu. Jangan bilang belum pernah baca tiga novel itu. Jomblo sendiri sudah pernah difilmkan dan menurut saya itu salah satu film Indonesia terbaik. Dulu kenapa saya berpikiran “cewek banget nggak sih?” pada buku Ninit Yunita ini? Karena dari beberapa novel yang pernah saya baca dengan penokohan perempuan pasti tema permasalahannya cinta, kegalauan, kasih tak sampai, dan sejuta perasaan menye-menye lainnya. Titip salam aja sama buku kayak gitu. 😀

Tapi, @istribawel, akun twitter Ninit Yunita memaparkannya dengan cara yang berbeda. Dan saya sangat menikmati tiap chapter dalam buku itu. Mengalun sistematis. Perasaan yang saya dapatkan seperti pengalaman ketika naik roller coaster. Awalnya deg-degan karena penasaran, lalu menikmati secara perlahan, kemudian jantung berdebar kencang ketika roller coaster berbalik. Kepalamu di bawah, kemudian merasa lega karena berhasil membayar rasa penasaran dengan selamat. Seperti itulah.  Continue reading →