Menikmati Keindahan Pelabuhan Ratu

Setelah menikah saya mempunyai keluarga baru dari istri yang tinggal di Sukabumi. Jalur mudik maupun balik Sukabumi – Bekasi salah satunya melewati pertigaan Cibadak yang kalau lewat jalan itu keluarga saya selalu bilang kalau belok kiri (kalau rute pulang ke Bekasi dan belok kanan kalau rute berangkat dari Bekasi) itu arah Pelabuhan Ratu. Saya cuma membayangkan bagaimana keindahan pantai yang terletak di pesisir selatan pulau Jawa itu. Kadang pun cuma googling gambar di google. Sad.

IMG_20150816_100648

Bebatuan di bibir pantai yang memperindah pemandangan

Beruntung akhirnya di ujung bulan Syawal kemarin kami beramai-ramai menuju ke pantai yang (mitosnya) dilarang pakai baju merah atau hijau ketika mendatanginya. Kami beramai-ramai berangkat dari Sukabumi menggunakan sebuah bus dan dua mobil pribadi karena penuh.

Jalanan setelah belok kiri di pertigaan Cibadak dari arah Sukabumi yang selama ini menjadi misteri buat saya *prek* ternyata berkelok-kelok dan naik turun. Tepiannya dihiasi pemandangan hijau dari pohon (Jati dan Sengon kalo ngga salah). Selain itu juga perumahan warga dan kantor pemerintahan daerah karena Pelabuhan Ratu sudah menjadi kota atau kecamatan sendiri. Katanya begitu.

Menurut yang pernah ke Pelabuhan Ratu beberapa puluh bahkan belas tahun lalu jalan menuju Pelabuhan Ratu mengalami banyak kemajuan. Dulu masih berupa aspal kasar dan batu-batuan masih dijumpai, tapi sekarang sudah halus layaknya jalan tol. Meskipun sudah halus layaknya jalan tol tapi tanjakan dan turunan dengan rambu huruf S banyak ditemui jadi harus hati-hati. Juga beberapa kali melewati tikungan seperti huruf U.

Perjalanan menuju pantai dari rumah di Sukabumi kurang lebih 2 jam. Sesampai di pelataran parkir kami langsung menggelar tikar dan bersama-sama memakan bekal piknik yang sudah disiapkan sebelum bermain ombak di pantainya agar tidak sakit atau masuk angin kata orang tua.

 

Isi perut dulu

Isi perut dulu

Selain indah karena air lautnya yang jernih dan pantainya dihiasi bebatuan di pinggirannya, pantai Pelabuhan Ratu juga memiliki ombak yang besar. Beberapa wisatawan terlihat asyik bermain ombak dengan papan selancar. ย Buat yang tidak membawa papan selancar disediakan juga di tempat penyewaan.

Byur!

Byur!

Tak terasa sengatan matahari mulai terasa tepat di atas kepala, kami kembali beramai-ramai berkumpul di atas tikar untuk makan siang. Ayam goreng, ikan Teri kacang, sambal cobek, lalapan daun Singkong, rempeyek dan masih banyak lagi sudah menunggu untuk disantap.

Setelah bersih-bersih kami kembali ke rumah dengan perasaan lebih bahagia daripada yang sebelumnya. ๐Ÿ˜€

Oke kapan-kapan ke sana lagi. Oke?

Oke kapan-kapan ke sana lagi. Oke?

Advertisements

4 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s