Ini tentang Kembali ke Jogja

Akhirnya kesampaian juga kembali ke Jogjakarta, kota penuh kenangan. Kalau tidak nekat, pasti belum tentu sempat. Niat awal menggunakan pesawat pas lagi ada promo tiket murah, eh belum ada dua minggu dapat kabar duka, maskapai ditutup! Tapi, demi niat apapun harus dituntaskan.. *tsah* Dan akhirnya kan sampai juga dengan cara lain, kereta api.

Dijemput teman saya yang paling cantik baik sedunia di stasiun. Sempat pangling karena dia tampak kurusan *harusnya ini ngga usah diposting kalo saya masih pingin bernapas sampe esok* dan tampak feminin. Mungkin, karena udah punya pacar ya jadi dandan pun tidak akan mubazir, hihihi… sampai mengantar ke penginapan di belakang jalan Malioboro, penginapan ini atas rekomendasi esge @sugiyanta yang ternyata sangat recommended untuk bekpeker berbudjet terbatas seperti sayah.. Β πŸ˜€

Mengawali malam menyempatkan ke sekaten yaitu semacam pasar malam akbar dalam rangka memperingati perayaan Tahun Baru Islam sampai Maulid Nabi Muhammad SAW. Dan menyempatkan naik wahana “ombak banyu”. Ini karena dipaksa dua teman saya, sebelumnya saya berpikir cuma mau ambil foto-foto dalam suasana sekaten. Tapi, mereka berhasil membujuk rayu. Baiklah. *karena nggak sempet foto ombak banyu jadi foto jajanan khas pasar malam aja ya*

Selanjutnya nongkrong-nongkrong ceria sambil bercerita dan haha hihi di angkringan tugu dengan segelas kopi joss. Semakin malam justru semakin ramai. Dan topik yang diperbincangkan semakin seru. Nggak lagi sekedar basa-basi nanya kabar masing-masing. Ahh, jadi pingin ngobrol lagi. Benarkah, cewe baru bisa memutuskan iya atau tidak setelah ditembak cowok setelah cowok itu hadir dalam mimpinya? Itu kata mereka sih..

Ketika matahari terbit adalah waktu yang tepat untuk mengelilingi kota Jogja. Hari pertama ini saya diajak ke Makam Imogiri di Bantul. Bayangan awalnya, makam itu pasti sepi, sunyi, mencekam dan aroma horror lainnya. Tapi, ketika tiba di sana paradigma itu berubah seketika. Tempatnya ramai, pemandangannya indah, tidak sehorror yang tampak dalam bayangan awal. Makam Imogiri adalah tempat makam para raja-raja di Jogja dan Solo. Tempatnya pun masing-masing terpisah. Yang nampak khas dari tempat wisata ini adalah jumlah anak tangga yang mencapai hampir 500 anak tangga. Jadi, kalo pas naik beratmu 100 kilo mungkin pas turun bisa jadi 60 kilo #hoax. Pun, konon perhitungan jumlah anak tangga tiap orang tiba berbeda. Hmmm…

Tujuan selanjutnya tentulah pantai. Yay! Pengakuan nih, selama bertahun-tahun di Jogja saya itu belum pernah ke Pantai Parangtritis. Katanya, Parangtritis itu pantainya jelek, kotor, rame dan hal negatif lain sebagainya. Nah, sebagai abege unyu yang waktu itu masih labil percaya saja omongan orang. Meh. Dan ternyata, pantai itu keren. Ada pemandangan berupa pegunungan di sebelah kiri. Juga ada penyewaan kuda untuk berputar-putar di sekitarnya. *keplak teman yang menyebar issue* Sayapun menikmati pantai nan ramai dan indah itu dengan sebuah kelapa muda. Segar.

Hari kedua alias hari terakhir. Hiks. Menyempatkan mampir ke Kopma (Koperasi Mahasiswa) tempat di mana eksistensi saya dimulai muahahaha.. dari semacam mahasiswa yang cuma pergi dari kos untuk ke kampus dan pulang dari kampus langsung ke kos saya bermetamorfosi menjadi orang penting dan eksis di organisasi ini yang ternyata job deskripsi pekerjaan itu masih berlanjut sampai sekarang, sekretaris. Muahahaha. Tapi, hari itu Kopma tutup jadi cuma mampir makan di tempat biasa makan siang dengan menu yang sudah sangat saya rindukan, tempe penyet! Hellooo, teman yang suka kirim foto tempe penyet di bbm, hari itu saya kesampaian makan di sana lagi. :p

 

 

 

 

 

 

Sebelum kembali ke penginapan menyempatkan berkunjung ke Lereng Merapi. Penasaran dengan tragedi wedus gembel yang menelan banyak korban jiwa termasuk sang juru kunci Mbah Maridjan. 😦 Dan ternyata suasananya memang beda sekali. Batang pohon tumbang, pohon tak lagi berdaun hanya menyisakan dahan. Menyedihkan. Padahal, sebelumnya di situ daerah yang indah dengan pemandangan menyejukkan mata. Anyway, rumah yang ditunjuk cowok ganteng berkacamata itu, konon itu rumah almarhum Mbah Maridjan.

Pukul 8 malam ketika Jogja diguyur hujan cukup deras dengan berat hati saya harus meninggalkan Jogja. Peluit panjang ditiup, kereta pun perlahan melaju. Sampai jumpa lagi, Jogja. πŸ˜€

tambahan foto-foto di sini kalo masih belum puas πŸ˜€

Advertisements

8 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s