Sepatu untuk Kakinya

Dia masih bolak-balik di sebuah pusat perbelanjaan. Mencoba satu per satu sepatu yang cocok untuk kakinya. Kadang, modelnya bagus tapi harganya kemahalan. Modelnya cocok tapi ukurannya tidak tersedia. Modelnya cocok warnanya kurang cocok. Susah-susah gampang. Seperti yang dialaminya. Aku cuma melihatnya sambil duduk di kursi yang biasanya tersedia di depan kaca untuk mencoba sepatu.
“Kenapa ngga ambil yang model itu saja, kan ukurannya udah pas dan warnanya juga cocok, harganya pun pas dengan dompet?” Aku mulai tidak sabar.
“Memilih sepatu itu seperti memilih jodoh. Harus yang bener-bener pas dengan hati, supaya kedepannya tidak menyesal. Sekarang, kamu mencoba mencocok-cocokkan, lalu kamu hempaskan karena suatu saat kamu sadar sebenarnya tidak suka.” Jawabnya, masih sambil mencoba-coba sepatu yang lain. Aku diam saja, sambil main mata dengan spg yang cekikikan mendengar jawaban temanku yang cukup ajaib untuk sebuah sepatu.
“Oke, sekarang kamu cocok dengan terpaksa. Sebulan dua bulan kamu memakainya dengan senang hati karena masih baru.” Dia masih nyerocos.
“Sampe suatu hari kamu kesandung batu, jatuh. Lalu, nyalahin sepatu. Katamu, ini pasti gara-gara modelnya gak cocok, jadi gak nyaman di kaki. Mengutuk dan mengutuk.”
“Hmm.. Eh, udah belum nih. Kita mampir ngopi yuk, kayaknya perlu menenangkan otakmu.”
“Maksudnya?!?” Pukulan kecil mendarat di lenganku.
Malamku semakin panjang setelah dijejali filosofi sepatu yang dikorelasikan dengan jodoh di kedai kopi.

*hanya fiktif* :-p

Posted with WordPress for BlackBerry.

Advertisements

2 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s