Kereta Api 3,5 jam

Well, aku pulang kampung lagi. Di saat persiapan hari Raya Iedul Adha dan Tahun Baru yang terlihat sangat berdesakan sekali. Idul Qurban sendiri tanggal 31 Desember dan 1 Januari pastilah awal tahun sebagai pembuka tahun baru 2007.

Stasiun 1,5 jam.
Bosen bener menunggu kereta “idaman” yang nanti akan mengantarku pulang kemudian dijemput adiku di stasiun sana. 1,5 jam aku harus menunggu di ruang luas penuh lalu lalang orang dengan bermacam-macam tujuan. Dan sekitar 6 buah kereta lewat begitu saja. Capeknya. Biasanya kereta tak selama ini, meskipun kelas ekonomi sebelum ada bencana lumur Lapindo Brantas paling lama telat 30 menit. Nah, ini 1 jam lebih. Kereta yang aku tumpangi memang kereta ekspress ke Jatim, Jember.
Penantian itu selesai setelah terdengar suara sang pengatur kereta, “Kereta Api Logawa ekspress akan segera masuk di jalur dua dari arah timur.” Puh, akhirnya. Mata liarku yang nanar melihat cewek-cewek sexy ke Solo pun tunai sudah. Entah kenapa cewek-cewek dengan tujuan Solo selalu beda dari yang lain.

Kereta 3,5 jam.
Waktu rata-rata Jogja dan kota tujuanku sekitar 3,5 jam. Semakin kereta telat semakin cepat jalannya. Memang enak sih pas di jalan dengan kecepatan penuh, tapi nunggunya itu lho..
Aku langsung naik ke kereta. Tanpa pandang bulu, jenis kelamin, atau tampang yang penting aku dapat tempat duduk. Mana bawaanku saat itu berat sekali, segala bentuk bahan skripsi dan perlengkapan sholat Idul Adha. Wuih, akhirnya dapat juga tempat duduk. Meskipun, bukan tempat yang cozy karena dekat dengan toilet, tapi daripada berdiri mending duduk di situ. Sebelumnya ada bapak-bapak seusia oomku yang sudah punya anak 4 dan anak tertuanya seusia denganku. Kemudian, disusul dengan seorang cowok kira-kira usianya 2-3 tahun di bawahku, terlihat dari potongan rambutnya yang panjang sebahu dan diikat. Aku pernah punya rambut sepanjang itu kan juga 2-3 tahun lalu. Mungkin hipotesaku benar.
Waktu terasa lambat sekali. Ingin sekali cepat sampai. Hari itu bertepatan dengan ulang tahun ibuku. Aku ingin segera mencium tangan dan pipinya kemudian mengucapkan selamat ulang tahun, bu. Sengaja pagi itu tidak kukirim SMS ataupun telepon karena aku merasa kehadiranku bisa lebih berarti buatnya. Ibu, Selamat Ulang Tahun.
Kami bertiga di kursi itu tetap saling diam. Aku tak tahu harus memulai perbincangan darimana dan orang tua di dekatku pun penampilannya biasa saja, tak mungkin lah aku bercerita tentang dunia telekomunikasi sudah menginjak 3G dan paket data tercepat saat ini adalah menggunakan teknologi HSDPA dua tingkat di atas GPRS. Daripada salah topik mending saling diam. Hupp.
Seperempat perjalanan, cowok yang usianya kira-kira 2 tahun di bawahku mulai basa-basi bercerita dengan si bapak itu. Sementara aku diam, pura-pura menutup mata padahal kuping ini sangat jelas mendengar pembicaraan mereka. Awalnya tentu tentang kuliah, eh entah kenapa tiba-tiba merembet ke masalah politik bahkan yang sangat urgent sekalipun. Semacam perbedaan kepemimpinan mulai dari Soeharto hingga SBY. Bencana yang melanda tanah air, penghakiman terhadap Aceh yang mereka pandang dari satu sisi. Ah, busyet seandainya aku adalah seorang spider pemerintahan yang sedang menyamar di atas kereta ekonomi, pasti mereka segera ditangkap dan dijatuhi hukuman gantung bahkan potong lidah karena ngomong yang bukan-bukan. Pelajaran yang dapat kuambil : seseorang kadang terlalu loyal untuk mengobral pengetahuan pas-pasannya pada orang lain yang dikira tidak paham, padahal sebenarnya orang itu mungkin lebih kritis. Untung saat itu tidak terjadi adu mulut dan cekcok. Untunglah.
15 menit setelah mereka bercerita panjang lebar dan menghakimi orang lain dengan lidahnya, sang bapak turun di sebuah stasiun. Lumayan terasa sedikit longgar. Dan kupastikan tak akan ada liputan politik satu arah yang live di depanku. Beruntungnya seluruh penumpang di depan kami semua turun, aku pun pindah tempat duduk. Dan duduk nyaman karena sendirian. Dengan nyamannya aku ambil majalah Selular dan membacanya. Gila, ponsel-ponsel makin mutakhir aja, komentku pendek.
Perjalanan itu usai. Aku turun dari kereta dan menyambangi adikku yang sudah dengan setia menunggu di parkiran. Selamat datang di kota kelahiran, gumamku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s